Alibi AI Mulai Retak? Dari Tak Kenal Pemilik Gudang hingga Muncul RZL, Dugaan Rantai Distribusi Semen Gresik Rp16 Ribu Kian Terbuka

Kediri, Beritaglobalnews.com – Setelah pemberitaan sebelumnya berjudul “Semen Mati Dijual Rp16 Ribu, Nama Besar Semen Gresik Terseret: Lalai Mengawasi atau Ada Permainan Distribusi?”, polemik dugaan peredaran semen murah yang diduga bermasalah di Kabupaten Kediri justru memunculkan babak baru.

Sosok berinisial AI, yang sebelumnya diduga menjadi orang kepercayaan pemilik gudang di Jalan Patimura No. 28, Desa Tunglur, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, sempat menghubungi Redaksi Beritaglobalnews.com melalui sambungan telepon WhatsApp pada 21 Mei 2026.

Dalam percakapan awal tersebut, AI mengaku dirinya hanya pembeli. Ia menyebut sebelumnya tidak mengenal pemilik gudang dan mengaku membeli semen karena harga yang ditawarkan sangat murah, yakni sekitar Rp16.000 per sak.

AI juga menjelaskan bahwa semen tersebut dibeli untuk kebutuhan pribadi, yakni pengecoran lantai jemur di gudangnya yang berada di Desa Karang Tengah, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri.

Namun perkembangan berikutnya justru memunculkan sejumlah pertanyaan baru.

Sekitar pukul 16.30 WIB, AI kembali mengajak awak media Beritaglobalnews.com bertemu secara langsung. Dalam pertemuan tersebut, muncul keterangan yang berbeda dari pernyataan sebelumnya.

Baca juga :

Semen Mati Dijual Rp16 Ribu, Nama Besar Semen Gresik Terseret: Lalai Mengawasi atau Ada Permainan Distribusi?

Kali ini AI mengaku bahwa semen tersebut dikeluarkan dari gudang oleh seseorang yang disebut sebagai marketing gudang berinisial RZL.

AI juga menyebut bahwa setiap transaksi atau pembelian semen dilakukan melalui RZL.

Pernyataan terbaru ini sontak menimbulkan pertanyaan besar. Sebab sebelumnya AI menyatakan tidak mengenal pemilik gudang dan seolah hanya pihak luar yang membeli barang.

Namun kini muncul nama baru yang disebut memiliki peran dalam proses keluarnya barang dari gudang.

Publik pun wajar bertanya: jika seluruh proses pembelian dilakukan melalui RZL, lalu sejak awal sebenarnya siapa yang menjembatani transaksi tersebut?

Jika benar ada pihak marketing yang mengatur keluarnya barang dari gudang, maka muncul pertanyaan lain: apakah aktivitas tersebut sekadar transaksi biasa, atau terdapat pola distribusi tertentu yang perlu ditelusuri lebih dalam?

Terlebih sebelumnya seorang warga asal Nganjuk yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku membeli sekitar 1.200 sak semen melalui AI, bahkan disertai bukti transfer transaksi.

Pertanyaannya menjadi semakin tajam: bagaimana seseorang yang mengaku hanya pembeli bisa terhubung dengan proses distribusi dalam jumlah besar?

Bukti Tranfer Pembelian Semen ke AI

Apabila benar transaksi ratusan hingga ribuan sak dapat berjalan melalui jalur tertentu, publik tentu akan sulit menganggap ini sekadar urusan jual beli biasa.

Di sinilah persoalan mulai terlihat lebih serius. Karena yang menjadi sorotan bukan lagi sekadar semen murah Rp16 ribu per sak. Yang dipertanyakan adalah kejelasan alur distribusi, konsistensi keterangan, serta siapa pihak yang sebenarnya memiliki kendali atas barang tersebut.

Yang lebih sensitif lagi, dugaan ini menyeret nama Semen Gresik, sebuah merek besar yang selama bertahun-tahun dibangun dengan kepercayaan publik.

Pertanyaan publik mulai mengarah pada hal yang lebih mendasar: apakah perusahaan sebesar itu benar-benar tidak mengetahui bagaimana produk bermerek mereka bisa keluar melalui jalur yang kini memunculkan banyak tanda tanya?

Karena masyarakat membeli bukan hanya karung semen. Masyarakat membeli nama, reputasi, dan kepercayaan.

Jika dugaan ini benar dan terdapat pihak tertentu yang memanfaatkan nama besar perusahaan untuk memperjualbelikan barang yang kualitasnya dipersoalkan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar nilai transaksi tetapi juga kredibilitas merek.

Yang lebih mengusik, keterangan AI yang berubah dari “tidak mengenal”, kemudian muncul nama RZL, justru membuat publik bertanya: masih adakah fakta lain yang belum terbuka?

Jika semuanya benar dan tidak ada yang disembunyikan, maka cara paling sederhana adalah membuka seluruh alur distribusi secara terang-benderang.

Sebab dalam persoalan seperti ini, diam bukan berarti meredakan persoalan. Kadang diam justru memperbesar pertanyaan.

Beritaglobalnews.com masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan kepada seluruh pihak terkait guna menjaga asas keberimbangan dan prinsip jurnalistik. (*Red)

Riski

Recent News