Mojokerto, Beritaglobalnews.com – Dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan, kegiatan Hari Lahir (Harlah) ke-58 Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) PMII digelar megah di kawasan Kembangbelor, Pacet, Mojokerto. Acara dengan arsitektur gedung menyerupai istana ini mendapat sambutan hangat dari Bupati Mojokerto, Gus Barra, yang hadir sekaligus memberikan apresiasi mendalam terhadap eksistensi Kopri selama lebih dari setengah abad.
“58 tahun bukanlah waktu yang singkat. Momentum Harlah ke-58 ini menjadi penting bagi Kopri untuk meneguhkan eksistensi perempuan Indonesia dalam gerakan sosial, intelektual, dan kebangsaan,” ujar Gus Barra dalam sambutannya. Ia juga menyampaikan kebanggaan karena Kabupaten Mojokerto—sebagai bumi Majapahit—dipilih menjadi lokasi penyelenggaraan kick-off Harlah tersebut.
Bupati Gus Barra turut menyinggung sejarah panjang Mojokerto yang mencatat peran penting perempuan hebat seperti Gayatri dan Tribhuwana Tunggadewi pada masa kejayaan Majapahit. Menurutnya, perempuan tangguh, terdidik, berjiwa sosial, dan berkomitmen terhadap keadilan adalah wajah modern perempuan Indonesia saat ini.
Ia menambahkan, Indonesia akan menjadi hebat jika perempuannya berdaya, berilmu, dan memiliki ruang untuk memimpin. Sebagai contoh, ia menyoroti kiprah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang dianggap sebagai bukti nyata peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional.
Lebih lanjut, Gus Barra menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Mojokerto terus menghadirkan kebijakan yang ramah perempuan dan anak. Salah satunya adalah program “Perempuan Berkarya”, yang memberikan dukungan modal usaha bagi pelaku usaha mikro kecil (UMK) perempuan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
“Kami tidak bisa membangun bangsa tanpa melibatkan separuh potensi manusia yang ada pada perempuan,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Gus Barra berpesan kepada seluruh kader dan alumni Kopri PMII di Indonesia agar terus mengasah intelektualitas, memperkuat spiritualitas, dan memperluas solidaritas.
“Dunia hari ini membutuhkan perempuan yang berpikir kritis namun berhati lembut, tegas dalam prinsip tapi bijak dalam tindakan,” pungkasnya.
Empat Pilar Menuju Indonesia Maju Versi Prof. Dr. KH. Asep Saifudin Chalim
Sementara itu, Prof. Dr. KH. Asep Saifudin Chalim, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, dalam wawancaranya dengan awak media, menyampaikan harapannya agar PMII dan pesantren terus bertransformasi menuju arah yang lebih baik, khususnya dalam bidang ibadah dan kontribusi terhadap bangsa.
Beliau menekankan bahwa pesantren dan PMII harus mengawal serta mengembangkan faham Islam yang rahmatan lil’alamin, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan Indonesia yang adil dan makmur.
Menurutnya, terdapat empat pilar penting yang harus diwujudkan:
1. Melahirkan ulama dan ilmuwan besar yang menjadi rujukan bagi para pemimpin bangsa.
2. Menyiapkan kader pemimpin bangsa dan dunia yang berorientasi pada kesejahteraan dan keadilan.
3. Mencetak konglomerat yang dermawan, bukan yang mengeksploitasi rakyat kecil.
4. Mendorong lahirnya profesional berkualitas dan bertanggung jawab.
“Jika empat pilar ini menjadi orientasi, maka Indonesia akan menjadi negara yang maju, adil, dan makmur,” tegas Yai Asep.
Sekilas Tentang Kopri PMII
Kopri PMII adalah badan semi otonom dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang menjadi wadah khusus bagi mahasiswi untuk mengembangkan diri serta memperjuangkan isu-isu perempuan. Didirikan pada 25 November 1967, Kopri bertujuan membentuk kader perempuan yang mandiri, berintegritas, berpengetahuan luas, dan berjiwa kepemimpinan, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Harapan Ketua Kopri PMII: Perempuan Harus Inovatif dan Visioner
Di akhir acara, Wulan, selaku Ketua Kopri PMII, menyampaikan harapannya agar kader Kopri ke depan mampu menjadi pemimpin yang inovatif, adaptif, dan visioner dalam menghadapi tantangan zaman.
“Sebagai wanita, kami harus mampu bertransformasi melalui digitalisasi, meningkatkan profesionalisme, serta berkontribusi aktif untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Kopri juga harus menjadi perpanjangan tangan aspirasi rakyat dalam memperjuangkan kesejahteraan sosial,” pungkasnya. (*Red)